TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
A. Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
- Menurut Gagne
Berdasarkan kondisi internal dan eksternal, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem informasi yang dipelajari.
Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
Asumsi yang mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1) hakekat sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa memori itu semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam waktu yang lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan kecil informasi yang terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya. Akan tetapi pada tahun 1960-an memori manusia mulai dipandang sebagai suatu struktur yang rumit yang mengolah dan mengorganisasi semua pengetahuan manusia
Metode ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur kecepatan spontanitas kelenturan daya tahan. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang tua. Kekurangan metode ini adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru bersifat mekanistis dan hanya berorientasi pada hasil. Murid dipandang pasif, murid hanya mendengarkan, menghafal penjelasan guru sehingga guru sebagai sentral dan bersifat otoriter.
· Menurut Atkinson
Teori pemrosesan informasi ini didasarkan pada model memori dan penyimpanan yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffin yang menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik, informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term memory atau working memory). Informasi tersebut setelah 5-20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang ( long term memory).
B. Model Pemrosesan Informasi
Pada hakikatnya model pembelajaran dengan pemerosesan informasi didasarkan pada teori belajar kognitif. Model pembelajaran tersebut berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem yang dapat memperbaiki kemampuan belajar siswa. Pemrosesan informasi menunjuk kepada cara-cara mengumpulkan atau menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non-verbal.
Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses penerimaan informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge ) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrival ). Teori belajar pemerosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf menggunakan kode internal yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini representasi objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap disimpan.
Stroge adalah informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian diteruskan untuk diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak semua informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.
Retrival adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada tiga asumsi berikut :
1. Antara stimulus dan respon berpijak pada asumsi, yaitu pemrosesan informasi ketika pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu
2. Stimulus yang diproses melalui tahap-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya
3. Salah satu tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan teori tentang komponen, yaitu komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen-komponen pemrosesan informasi dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas bentuk informasi, serta proses terjadinya ”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut :
· · Sensory Receptor (SR)
Sensory Receptor adalah sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
· · Working Memory (WM)
Working Memory diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi. KarakteristikWorking Memory adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan 15 detik jika tidak diadakan pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping melakukan pengulangan.
· · Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang diperlukan.
C. Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK)
- Pemanfaatan Komputer dalam Pembelajaran
Komputer di dunia pendidikan tidak hanya digunakan untuk mempelajari seluk beluknya, tetapi juga sebagai sarana komunikasi serta sebagai media dalam proses pembelajaran. Hal ini karena potensi komputer yang dapat dimanfaatkan untuk dunia pendidikan telah sangat luas dan menjangkau berbagai kepentingan. Proses pembelajaran dapat juga dilaksanakan dengan bantuan komputer.
Secara garis besar komputer dimanfaatkan dalam dua macam penerapan, yaitu dalam bentuk pembelajaran dengan bantuan komputer (Computer Assisted Instructional-CAI), dan pembelajaran berbasis komputer (Computer Based Instruction-CBI). Dalam banyak hal kedua penerapan dalam pemanfaatan komputer untuk pembelajaran ini adalah sama. Perbedaan yang menonjol diantara keduanya terletak pada fungsi perangkat lunak yang digunakan. Pada CAI perangkat lunak yang digunakan berfungsi membantu guru dalam proses pembelajaran, seperti sebagai multimedia, alat bantu dalam presentasi maupun demontrasi atau sebagai alat bantu dalam pelaksanaan pembelajaran. Adapun pembelajaran berbasis komputer (CBI) mempunyai fungsi lebih luas. Perangkat lunak dalam CBI disamping bisa dimanfaatkan sebagai fungsi CAI, bisa juga dimanfaatkan dengan fungsi pembelajaran individual (individual learning).
Dalam pembelajaran bermedia komputer ini siswa berhadapan dan berinteraksi secara langsung dengan komputer. Interaksi antara komputer dan siswa ini terjadi secara individual dan komputer memang memiliki kemampuan untuk itu. Dengan demikian apa yang dialami siswa satu dengan lainnya tidak akan sama. Potensi pelayanan terhadap perbedaan siswa inilah komputer digunakan dalam sistem pembelajaran.
- Ciri-ciri Media Pembelajaran Berbantuan Komputer
Ciri-ciri media yang dihasilkan teknologi berbantuan komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) sebagai berikut:
(1) dapat digunakan secara acak, non-sekuensial, atau secara linier,
(2) dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan perancang/pengembang sebagaimana direncanakannya,
(3) biasanya gagasangagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, simbol dan grafik,
(4) prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini, dan
(5) pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi.
- Keuntungan Media Pembelajaran Berbasis Komputer
Terdapat beberapa kelebihan media berbantuan komputer terkait dengan multimedia interaktif yaitu:
1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah secara individual.
2. Menyediakan presentasi yang menarik dengan animasi.
3. Menyediakan pilihan isi pembelajaran yang banyak dan beragam.
4. Mampu membangkitkan motivasi siswa.
5. Mampu mengaktifkan dan menstimulasi metode pembelajaran dengan baik.
6. Meningkatkan pengembangan pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan.
7. Merangsang siswa mendapat pengalaman bersifat konkrit, dan retensi siswa meningkat.
8. Memberikan umpan balik secara langsung.
9. Siswa dapat menentukan sendiri percepatan belajarnya.
10. Siswa dapat melakukan self evaluation.
Hal ini didukung oleh Wankat dan Orenovicz bahwa keuntungan lain dari pembelajaran berbantuan komputer adalah memberikan kemudahan bagi guru mengembangkan materi pembelajaran lebih lanjut yaitu:
1. Mengakomodasi siswa yang lamban karena dapat menciptakan iklim belajar yang efektif dengan cara yang lebih individual.
2. Merangsang siswa untuk mengerjakan latihan karena tersedianya animasi grafis, warna dan musik.
3. Kendali berada pada siswa sehingga percepatan belajar disesuaikan dengan tingkat kemampuan.
- Keterbatasan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer
Ada beberapa keterbatasan pembelajaran berbantuan komputer, yaitu:
1. Hanya efektif jika digunakan oleh satu orang atau kelompok kecil.
2. Tampilan yang kurang menarik dan tidak dirancang dengan baik akan melemahkan motivasi siswa untuk belajar.
3. Guru yang tidak paham dengan aplikasi program harus bekerja sama dengan ahli programmer grafis, juru kamera dan teknisi komputer.
4. Guru yang tidak menguasai strategi pembelajaran bermedia komputer akan membuat pembelajaran menjadi tidak bermakna.
5. Dalam perancangannya memerlukan biaya yang relatif mahal.
6. Pembelajaran terbatas pada apa yang ada pada program saja.
Keterbatasan ini tentunya dapat diminalisir dengan merancang multimedia semenarik mungkin sehingga siswa termotivasi untuk belajar, guru meningkatkan kompetensinya dalam mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran, serta perlu kerja sama yang baik antara guru sebagai perancang pembelajaran dengan programmer yang menguasai berbagai software pengembangan media dalam memproduksi (membuat) multimedia.
- Evaluasi Media Pembelajaran Berbantuan Komputer
Media seperti apapun yang dibuat perlu dinilai terlebih dahulu sebelum dipakai secara luas, penilaian (evaluasi) ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang dibuat tersebut dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan atau tidak. Beberapa beberapa tujuan evaluasi media pembelajaran, yaitu :
1) Menentukan apakah media pembelajaran itu efektif.
2) Menentukan apakah media itu dapat diperbaiki atau ditingkatkan.
3) Menentukan apakah media itu cost-effective dilihat dari hasil belajar siswa.
4) Memilih media pembelajaran yang sesuai untuk dipergunakan dalam proses belajar mengajar di kelas.
5) Menentukan apakah isi pelajaran sudah tepat disajikan dengan media itu.
6) Menilai kemampuan guru menggunakan media pembelajaran.
7) Mengetahui apakah media pembelajaran itu benar-benar memberi sumbangan terhadap hasil belajar seperti yang dinyatakan.
8) Mengetahui sikap siswa terhadap media pembelajaran.
Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti diskusi kelas dan kelompok interviu perorangan, observasi mengenai perilaku siswa, dan evaluasi media yang telah tersedia.
Permasalahannya :
- Dalam pemrosesan informasi membutuhkan stimulus. Nah, menurut anda stimulus yang baik itu bagaimana agar semua siswa itu mampu mengolah informasi tersebut sesuai dengan keinginan kita?
Baiklah saya akan menjawab permasalahan saudari krisna yaitu permasalahan yang pertama cara agar informasi masuk kedalam memory jangka panjang, dengan cara setelah selesai dipelajari dikelas ada baiknya kita mengulanginya lagi dirumah sehingga kita akan lebih memahami materi yang telah kita pelajari, dan juga bisa melalui gambar2 yang disajikan oleh sang pendidik dalam proses belajar bisa membantu kita dalam mengolah informasi dalam memory jangka panjang. Dan masih ada cara yang lain lagi. Sekian tambahan dari saya terimakasih.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda, dimana stimulus bisa dipengaruhi oleh faktor luar maupun dalam dari stimulus itu sendiri. Misalnya dalam meningkatkan kemandirian siswa itu sendiri dengan memberikan stimulus dari luar yaitu dengan pemberian layanan bimbingan kelompok. Pada pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, dinamika kelompok memiliki peranan penting dalam mengembangkan kemandirian siswa, dimana anggota kelompok saling berinteraksi membahas topik yang diberikan oleh pemimpin kelompok, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab untuk lebih memperdalam materi. Sehingga siswa mengetahui tujuan diadakannya layanan bimbingan kelompok, yakni sebagai upaya untuk meningkatkan kemandiriannya. Sedangkan stimulus dari dalam yaitu stimulus yang berasal dari anggota kelompok itu sendiri untuk bisa atau mampu memiliki karakter mandiri.
BalasHapusBrdasarkan buku ynag pernah sya baca .ini berkaitan dg beberapa stimulus ..Jenis Stimulus berdasarkan Teori Skinner’s Operant Conditioning antara lain (1) Modifikasi Tingkah Laku Guru, (2) Positive Reinforcement, (3) Negative Reinforcement, (4) Hukuman, (5) Primary Reinforcement, (6) Secondary or Learned Reinforcement. Dan berdasarkan jenis-jenis stimulus tersebut dapat disebutkan beberapa bentuk stimulus yang diberikan guru dalam pembelajaran diantaranya (1) penggunaan variasi metode dan strategi dalam belajar melalui media, tehnik bermain, materi dan buku penunjang, (2) pemberian nilai, (3) pemberian hukuman, (4) pemberian hadiah, dan (5) pemberian pujian atau penghargaan. Adapun Respon yang ditampilkan siswa dalam kelas antara lain (1) Respon Perseptual, (2) Respon Emosional, dan (3) Respon Behavior.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab permasalahan diatas,
BalasHapusmenurut buku Sardiman (2014: 92) Ada beberapa jenis stimulus pemberian stimulus adalah pujian, memberi angka, pemberian hadiah.
1. Pujian
Disaat seorang guru memberi kata pujian harus sesuai dengan kenyataan yang ada dan sewajarnya saja. Dan seorang guru memberi kata pujian dengan maksud untuk memberikan penghargaan kepada anak didik atas jerih payahnya dalam belajar. Kata pujian tidak hanya diberikan kepada seorang anak didik, tetapi dapat juga diberikan kepada semua anak didik.
2. Memberi angka
Angka yang dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil kreativitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi seseuai hasil tugas harian yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru.
3. Pemberian hadiah
Pemberian hadiah tidak mesti dilakukan pada waktu kenaikan kelas. Tidak mesti pula hadiah itu diberikan ketika anak didik menerima buku rapor dalam setiapcatur wulan. Tetapi dapat pula dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar contohnya di saat siswa bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh gurunya atau disaat guru memberi tugas siswa tersebut pendapat nilai tertinggi. Maka siswa tersebut akan diberikan hadiah.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda, dimana stimulus bisa dipengaruhi oleh faktor luar maupun dalam dari stimulus itu sendiri. Misalnya dalam meningkatkan kemandirian siswa itu sendiri dengan memberikan stimulus dari luar yaitu dengan pemberian layanan bimbingan kelompok. Pada pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, dinamika kelompok memiliki peranan penting dalam mengembangkan kemandirian siswa, dimana anggota kelompok saling berinteraksi membahas topik yang diberikan oleh pemimpin kelompok, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab untuk lebih memperdalam materi. Sehingga siswa mengetahui tujuan diadakannya layanan bimbingan kelompok, yakni sebagai upaya untuk meningkatkan kemandiriannya. Sedangkan stimulus dari dalam yaitu stimulus yang berasal dari anggota kelompok itu sendiri untuk bisa atau mampu memiliki karakter mandir
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan saudari krisna
BalasHapusMemurut saya stimulus yang baik adalah stimulus yang akan segera dapat memberikan respons terhadap apa yang diterima. Setidaknya dapat menghantarkan informasi ke saraf pusat agar dapat dikelola. Dan agar bisa mendapatkan stimulus yang baik, maka kita haris melatihnya agar terbiasa terhadap rangsangan yang diberikan, dan setiap informasi yang didapat segera dikelola jangan diabaikan
Menurut Slameto (2013: 215), menuliskan stimulus memiliki berbagai bentuk seperti perhatian, pengertian dan penerimaan proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan dan serta nilai-nilainya.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda, dimana stimulus bisa dipengaruhi oleh faktor luar maupun dalam dari stimulus itu sendiri. Misalnya dalam meningkatkan kemandirian siswa itu sendiri dengan memberikan stimulus dari luar yaitu dengan pemberian layanan bimbingan kelompok. Pada pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, dinamika kelompok memiliki peranan penting dalam mengembangkan kemandirian siswa, dimana anggota kelompok saling berinteraksi membahas topik yang diberikan oleh pemimpin kelompok, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab untuk lebih memperdalam materi. Sehingga siswa mengetahui tujuan diadakannya layanan bimbingan kelompok, yakni sebagai upaya untuk meningkatkan kemandiriannya. Sedangkan stimulus dari dalam yaitu stimulus yang berasal dari anggota kelompok itu sendiri untuk bisa atau mampu memiliki karakter mandiri.
BalasHapusMenurut saya stimulus yang baik adalah menghasilkan respon yang baik pula, apa yang di sampaikan pngajar dapat diserap atau diterima peserta didik.
BalasHapusStimulus yg baik itu adalah stimulus yg memang diberikan oleh guru untuk melihat respon dari siswanya. Apabila siswa memberikan respon yang bagus maka dapar dikatakan bahwa stimulus yg diberikan guru itu bagus.
BalasHapusTrima kasih blog anda sangat membantu sekali tetap semangat ya dalam membuat blog baru
BalasHapusThanks ya sangat bermanfaat
BalasHapus